Kesenian Hadrah dan Penerapannya di Lingkungan Sekolah Menengah Pertama


        Sumber: https://pin.it/4nIejgTDK

Oleh: Muzaki Ubed (Universitas Islam Negeri Salatiga)

    Pada awalnya seni hadrah adalah  kesenian yang semata-mata digunakan sebagai media dakwah Islamiyah. Seiring berkembangnya zaman, kesenian ini mulai dimainkan dalam berbagai acara keagamaan. Namun,  kesenian ini mulai jarang dipelajari oleh generasi muda. Cara agar kesenian ini dapat terus terlestari adalah dengan cara diadakannya kegiatan ekstrakulikuler di lingkungan sekolah dan bisa dimulai dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berikut pengertian Hadrah dan penerapannya dilingkungan sekolah.

    Secara etimologi, kata hadrah berasal dari Bahasa arab hadoro yang berarti hadir atau kehadiran. Dalam konteks kesenian islam, hadroh merujuk pada sebuah bentuk ritual atau acara keagamaan yang melibatkan pembacaan sholawat (pujian kepada Nabi Muhammad SAW.) yang diiringi dengan tabuhan alat musik terutama rebana (Citra Nursihah dkk., 2025). Kesenian Hadrah sering kali dipentaskan dalam berbagai acara keagamaan seperti perayaan Ramadan, peringatan hari-hari besar Islam, peringatan Isra Mikraj dan perayaan hari-hari  besar Islam lainnya. Melalui kesenian ini, berbagai lapisan Masyarakat dapat bersatu dalam kebersamaan. Dengan melibatkan diri dalam pertunjukan hadrah mereka merasakan kehangatan dan kebersamaan yang memperkuat ikatan antar sesama anggota Masyarakat baik yang memainkan alatnya maupun yang mendengarkan (Safitri dkk., 2024).

    Dalam hal ini, Kurikulum Merdeka berperan menanamkan nilai-nilai sejarah lokal dan kearifan budaya dalam materi pembelajaran, Kurikulum Merdeka menciptakan ruang bagi peserta didik untuk lebih terhubung dengan Sejarah yang mana hal tersebut menjadi bagian dari identitas mereka (Susilo & Jauhari, 2024). Manfaat mempelajari kesenian hadrah diantaranya: Menanamkan kecintaan kepada Rasulullaah SAW melalui syair sholawat atas Nabi Muhammad SAW., mengenalkan kesenian islam melalui alat-alat yang dimainkan dalam suatu kegiatan keislaman, menggali bakat dan potensi siswa serta mengembangkan mental dan keyakinan sebagai keterampilan jangka Panjang agar dapat berkembang luas di masyarakat, mengajarkan disiplin kepada peserta didik, hal ini terlihat dari segi waktu pelaksanaan pelatihan sehingga para peserta dapat menerapkan nilai disiplin dalam kehidupan mereka sehari-hari (Ramadhan dkk., 2023).

    Nilai-nilai karakter yang terdapat pada penerapan kesenian hadrah, antara lain adalah sebagai berikut: (1) Nilai Religius.  Nilai religius yang terdapat dalam kesenian hadrah ini terlihat saat ingin memulai belajar seni hadrah, Para pembimbing kesenian ini mengajak para siswanya untuk memulai dengan membaca Al-Fatihah dan doa. (2) Nilai Disiplin. Pada pembelajaran kesenian hadrah juga diajarkan disiplin, para peserta harus hadir tepat waktu setiap waktu pelatihan agar mereka tidak tertinggal setiap materi yang diajarkan. (3) Nilai kerja keras. Ketika para siswa belajar seni hadrah mereka dituntut konsentrasi penuh karena jika para siswa tidak bisa menguasai salah satu dari jenis tabuhan hadrah maka mereka tidak bisa bermain hadrah dengan baik dan benar. (4) Nilai Mandiri. Pada awal latihan hadrah para siswa diajar secara bersama-sama, namun ketika ada siswa yang kesulitan maka para pelatih mengajarkan siswa tersebut secara mandiri agar ia bisa menguasai seluruh instrumen yang ada pada kesenian ini seperti siswa lainnya (Zahidi & Santosa, 2017).

    Seiring berjalannya waktu, seni dan budaya telah berperan besar dalam mempererat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa solidaritas di tengah masyarakat. Akan tetapi, di tengah arus modernisasi saat ini, terjadi penurunan minat terhadap kegiatan budaya tradisional, seperti seni rebana. Generasi muda kini lebih tertarik pada jenis musik dan kesenian modern yang dianggap lebih sesuai dengan tren kekinian dan gaya hidup masa kini. Pengajaran  kesenian hadrah ini dimulai dari lingkungan  sekolah dengan cara mewajibkan para peserta didik  bisa dan mahir dalam memainkan kesenian hadrah sebagai syarat kelulusannya, hal ini sudah diterapkan di SMP  Darul Ahgaff yang berada dikecamatan Pabelan. Hal ini efektif karena 80% siswa laki-lakinya lulus dan mahir memainkan kesenian hadrah ini.

    Adapun metode yang diterapkan para pelatih di SMP Darul Ahgaff Pabelan diantaranya: (1) Metode Demokrasi. Pada metode ini para pelatih menampilkan sebuah video penampilan hadrah menggunakan media sosial, dan peserta didik diarahkan untuk menonton video tersebut sembari pelatih mempraktikkan tes, lalu bertanya kepada peserta didik tentang apa yang mereka tangkap dari video yang mereka amati. Secara tidak langsung hal ini dapat melatih daya tangkap siswa terkait sebuah video. (2) Metode Imitasi. Metode ini diterapkan dengan mengamati tingkah laku atau perilaku dari orang lain disekitarnya, yaitu dengan cara para pelatih memperlihatkan cara bermain hadroh dengan baik dan benar dihadapan para siswa. (3) Metode Latihan. Dimana para siswa diberi kesempatan untuk memainkan hadroh melalui pemahaman yang mereka dapat dari pengamatan terhadap video dan juga mengamati secara langsung dari cara bermain para pelatih mereka (Oviyanti & Handayaningrum, 2021)

    Implementasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler dilingkungan sekolah dapat dimulai dengan beberapa cara sebagai berikut: (1) Sebelum memulai  kegiatan bisa diawali dengan membaca surat Al-Fatihah Bersama-sama. (2) Presensi peserta didik. Hal ini bertujuan untung melihat keaktifan dan juga kedisiplinan para siswa. (3) Mengelompokkan siswa sesuai jumlah alat hadrah. Hal ini bisa dimulai dengan cara meminta para siswa memainkan alat hadrah terlebih dahulu agar dapat mengetahui kemampuan mereka bermain dialat yang besar atau kecil. (4) Mengenalkan dan mengajarkan para siswa tentang hadrah secara perlahan agar para siswa tidak hanya mengetahui tapi juga dapat mengingat  setiap instrumen yang ada pada kesenian hadrah. (5) Mengajarkan secara terus menerus agar para siswa dapat memainkan kesenian hadroh secara marir dan dapat dikembangkan dilingkungannya (Susanti & Sunaryo, 2023).

Editor: Zuhayra Khoirin Amala

 

 

Posting Komentar untuk "Kesenian Hadrah dan Penerapannya di Lingkungan Sekolah Menengah Pertama "