Pelatihan Karya Tulis Ilmiah LDK UIN Salatiga dengan tema "Menjelajah Kedalaman Makna, Mewariskan Jejak dalam Tulisan"

 



Sumber foto : Arsip Departemen Medinfo


       Pada Sabtu, 9 Mei 2026, telah dilaksanakan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (PKTI) dengan tema “Menjelajah Kedalaman Makna, Mewariskan Jejak dalam Tulisan.” Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami bahwa menulis bukan sekadar tugas akademik, tetapi juga cara meninggalkan jejak pemikiran yang akan terus hidup. Acara dibuka oleh MC formal dengan pembacaan susunan acara, kemudian dilanjutkan sesi sambutan dari para pengurus. Ketua Panitia PKTI, Uswatun, menyampaikan harapannya agar seluruh peserta mampu mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, serta berani menyampaikan ide-ide terbaiknya melalui tulisan ilmiah yang bermanfaat. Ia juga menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk bertumbuh dan saling menginspirasi.

    Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Umum UKM Lembaga Dakwah Kampus UIN Salatiga, yaitu Rifki Naufal Fatin. Ia mengatakan bahwa pelatihan ini tidak akan terlaksana tanpa dukungan dan antusiasme peserta. Melalui kegiatan tersebut, ia berharap seluruh peserta dapat mulai berani menyampaikan ide dan gagasan terbaiknya melalui tulisan. Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan oleh MC nonformal yang mencairkan suasana melalui beberapa ice breaking sebelum memasuki materi inti pelatihan.

    Dalam sesi materi, pemateri menjelaskan bahwa menulis adalah proses yang tidak akan pernah tergantikan, meskipun saat ini banyak media populer seperti video, gambar, dan konten singkat lainnya. Menulis dianggap mampu “memperpanjang usia” seseorang karena gagasan dan pemikirannya tetap hidup melalui tulisan. Menulis juga dipahami sebagai proses ekspresi diri. Banyak orang memulai dari hal sederhana seperti journaling, diary, atau catatan pribadi. Aktivitas tersebut ternyata memiliki efek terapeutik karena membantu seseorang mengatur emosi, memetakan pola hidup, dan memahami apa yang sedang dipikirkan maupun dirasakan.

    Peserta juga diajak memahami bahwa kemampuan menulis bukanlah bakat yang turun begitu saja, melainkan sebuah keterampilan dan kebiasaan yang harus dilatih secara konsisten. Menulis tidak mungkin berkembang tanpa membaca. Oleh karena itu, kebiasaan membaca dan menulis harus berjalan beriringan. Dalam sesi ini, pemateri turut merekomendasikan buku Atomic Habits dan The Power of Habit sebagai referensi untuk membangun kebiasaan produktif.

    Beberapa tips menulis juga dibagikan kepada peserta, seperti membersihkan meja belajar, menonaktifkan ponsel agar tidak terdistraksi, serta menerapkan teknik Pomodoro dengan fokus belajar selama 25 menit dan istirahat 5 menit. Selain itu, peserta diajak memahami bahwa setiap tulisan selalu berawal dari rasa ingin tahu. Fenomena sosial, tren teknologi, pengalaman pribadi, hingga keresahan sehari-hari dapat menjadi sumber ide penelitian maupun tulisan ilmiah.

    Materi kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai penelitian. Pemateri menjelaskan bahwa research berarti “mencari kembali,” sedangkan penulis dan peneliti diibaratkan sebagai peziarah intelektual yang terus mencari pengetahuan. Masalah penelitian tidak selalu berarti sesuatu yang negatif, tetapi bisa berupa hal yang masih diperdebatkan, membutuhkan penjelasan lebih lanjut, mengkritisi pemahaman sebelumnya, membutuhkan solusi baru. Sebuah topik penelitian yang baik harus aktual, ilmiah, terukur, memiliki alasan yang jelas, dan memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan maupun masyarakat.

    Dalam penulisan karya ilmiah, peserta juga diajarkan pentingnya membuat outline sebelum mulai menulis. Outline membantu penulis memetakan ide dan menentukan arah tulisan. Pemateri menekankan bahwa langkah awal menulis tidak perlu terlalu memikirkan kesempurnaan struktur. Yang terpenting adalah mulai menulis terlebih dahulu, kemudian melakukan proses editing setelahnya. Selain itu, dijelaskan pula cara membuat judul yang baik, yaitu harus jelas, fokus, tidak terlalu panjang, serta menarik. Struktur umum judul dapat terdiri dari topik utama, metode atau tindakan, dan objek penelitian.

    Sesi berikutnya membahas strategi publikasi jurnal. Peserta dikenalkan dengan konsep “ekologi jurnal,” yaitu bahwa setiap jurnal memiliki karakter dan ruang intelektualnya masing-masing. Karena itu, penulis perlu menemukan “rumah intelektual” yang sesuai dengan topik tulisannya. Dalam diskusi interaktif, muncul pula pembahasan mengenai penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik. Pemateri menegaskan bahwa AI boleh digunakan sebagai alat bantu, tetapi bukan sebagai pengganti proses berpikir. Ide dan gagasan tetap harus berasal dari penulis sendiri. AI hanya membantu memperjelas atau mengembangkan outline. Peserta juga diingatkan untuk selalu memeriksa kembali informasi dari AI karena tidak semua hasilnya benar dan terkadang dapat menimbulkan halusinasi informasi.

    Pada sesi tanya jawab, peserta aktif menyampaikan berbagai pertanyaan, mulai dari cara mengatasi ketergantungan pada AI, rasa gugup saat presentasi, hingga writer’s block dalam menulis. Salah satu solusi yang diberikan untuk mengatasi writer’s block adalah dengan membuat outline, berdiskusi dengan teman, dosen, maupun kelompok belajar. Pemateri juga menjelaskan bahwa judul penelitian dapat berubah seiring perkembangan proses penelitian. Pelatihan ini akhirnya menjadi ruang refleksi bahwa menulis bukan hanya aktivitas akademik, melainkan juga proses berpikir, berdialog, dan meninggalkan warisan gagasan bagi banyak orang.


Penulis: Retno Dwi Haryani

Posting Komentar untuk "Pelatihan Karya Tulis Ilmiah LDK UIN Salatiga dengan tema "Menjelajah Kedalaman Makna, Mewariskan Jejak dalam Tulisan""