Strategi Dakwah Berbasis Budaya Lokal Yang Efektif Untuk Menyampaikan Pesan Keagamaan Dalam Masyarakat Muhammadiyah

 Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad D di Yogyakarta sebagai gerakan sosial keagamaan yang bertujuan untuk mengembalikan umat islam kepada ajaran islam yang murni dan sesuai dengan Al-Quran dan Hadist, tanpa campur tangan adat-istiadat setempat yang dianggap menyimpang. Muhammadiyah juga memiliki tujuan dalam berdakwah yaitu Amar Ma`ruf nahi Munkar dan strategi dakwahnya terfokus pada gerakan tajdid dan bersuci.  Gerakan tajdid ini bertujuan untuk mempertahankan kesucian dan kemurnian, sebagaimana ajaran islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. 1 (Muhammadiyah, 2021)

Dakwah merupakan salah satu kegiatan pokok dalam islam yang bertujuan untuk menyampaikan dan mengajak umat kepada nilai-nilai ajaran islam yang sebenar-benarnya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Dalam konteks Muhammadiyah, dakwah memiliki peranan yang sangat vital sebagai sarana untuk membangun umat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.  Dakwah juga memiliki berbagai cara dalam penyampaiannya, salah satunya yaitu melalui budaya lokal. Karena di Indonesia sendiri dari mulai Sabang sampai Merauke mempunyai banyak sekali budaya lokal, mulai dari bahasa, upacara, pakaian, kesenian, permainan, dan yang lainnya. 2 (Burhanuddin, 2012)

Budaya lokal bisa menjadi media dakwah islam yang efektif karena sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, memudahkan komunikasi pesan agama, dan dapat menggabungkan nilai-nilai budaya positif dengan ajaran islam. Seperti dalam Teori Diffusion of Innovations yang dikembangkan oleh Everett Rogers, di jelaskan bahwa dalam konteks dakwah, ajaran atau nilai-nilai keagamaan dapat dianggap sebagai inovasi yan ingin diperkenalkan dan diinternalisasi oleh masyarakat. Dan di jelaskan juga bahwa proses penyebaran melalui dakwah  sangat memerlukan komunikasi yang efektif. 3 (Roggers, 2003)

4“Menurut Sutarto, (2004) transformasi dakwah melalui media budaya lokal berarti menggunakan budaya lokal seperti seni, tradisi, bahasa, dan ritual sebagai media untuk menyampaikan pesan dakwah. Pendekatan ini membuat dakwah lebih relevan, mudah diterima, dan akrab bagi masyarakat setempat, sehingga lebih efektif dalam menyampaikan pesan agama. Dakwah berbasis budaya lokal melibatkan penggunaan elemen budaya seperti seni tari, musik, teater, wayang kulit, gamelan, dan lain-lain untuk menyampaikan pesan agama.  

Dengan menggunakan media budaya lokal, dakwah menjadi lebih relevan dan mudah dipahami oleh masyarakat karena pesan agama disampaikan dalam konteks yang familiar dan akrab dengan budaya mereka. Pemanfaatan budaya lokal juga dapat meningkatkan efektivitas dakwah karena pesan agama lebih mudah diingat dan diterima oleh masyarakat karena dikemas dalam bentuk yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. 

 Seperti dalam Al-Qur’an surah An-Nahl 125 

 

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.


Dari ayat tersebut kita bisa tau bahwasannya, kita memang berkewajiban untuk menyebarkan islam di muka bumi ini dengan cara yang baik, tentunya dalam hal ini adalah tidak masalah jika ingin menggunakan kesenian sebagai media dakwah asalkan tidak melupakan aspek akidah, ibadah, muamalah dan akhlak.


Pada essay kali ini media dakwah lokal yang ingin penulis bahas adalah melalui media musik daerah dan penggunaan bahasa daerah karena musik daerah dan bahasa daerah merupakan sesuatu hal yang hampir kita jumpai di sekitar kita, mulai dari lingkup masyarakat sekitar bahkan sampai lingkup yang lebih besar. 5“Menurut Madjid, (1995)” menggunakan musik daerah atau yang biasanya kita kenal dengan musik tradisional untuk menyampaikan pesan keagamaan contohnya seperti; Banyak para pemuka agama di setiap daerah yang menggunakan lagu daerah mereka sebagai media dakwah. Dengan cara mengganti lirik lagu daerah tersebut dengan lirik yang menjelaskan atau menjuru ke arah keagamaan tetapi tidak merubah nada lagu daerah itu sendiri, kadang juga ada juga guru ngaji di suatu masjid atau di pesantren yang menerapkan konsep belajar sambil bernyanyi karena ada beberapa orang yang beranggapan bahwa untuk menghafalkan sesuatu hal bisa lebih mudah jika dilakukan sambil bernyanyi apalagi nada dari lagu yang digunakan adalah lagu-lagu daerah yang sangat familiar di telinga para siswa dan siswi khususya mereka yang masih tergolong remaja.


Bahasa daerah ternyata juga bisa di gunakan sebagai salah satu media dakwah karena banyak di luar sana orang-orang yang masih menggunakan bahasa daerah mereka sebagai bahasa utama atau bahasa sehari-hari dalam berkomunikasi antar sesama warga. Sehingga muncul inovasi baru yaitu menggunakan bahasa daerah untuk menyampaikan pesan keagamaan dan itu bisa menjadi solusi dari keterbatasan bahasa dan menghindari kesalahpahaaman antara pemuka agama dengan masyarakat sekitar. Contohnya khotbah masjid di kampung karena biasanya masjid-masjid di kampung masih banyak yang menggunakan bahasa daerah mereka untuk menyampaikan khotbah. Dengan alasan banyak orang tua yang masih kesulitan untuk menggunakan dan memahami bahasa indonesia jadi penggunaan bahasa daerah dalam khotbah tetap masih berjalan di beberapa kampung. Dan itu juga bisa berlaku untuk ceramah atau penyampaian meteri-materi dakwah yang masih menggunakan bahasa daerah setempat.


Dari contoh kedua tradisi di atas, dapat kita lihat bahwa pesan agama menjadi lebih relevan dengan konteks budaya lokal, sehingga lebih mudah di terima dan dipahami, serta membantu menjaga dan mempertahankan identitas budaya lokal dan juga membuat masyarakat termasuk kita sebagai generasi muda dapat lebih menghargai dan mencintai budaya mereka sendiri. Jadi, walaupun mereka menggunakan bahasa yang berbeda tetapi mereka tetap bisa merasakan kebersamaan, toleransi, dan mencintai bahasa daerah mereka


Transformasi dakwah melalui media budaya lokal juga mencakup adaptasi pesan dakwah dengan tren digital. Media sosial, konten video, dan platform online dapat digunakan untuk menyebarkan pesan dakwah yang dikemas dalam format yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat, terutama generasi muda. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda harus terus berinovasi untuk terus berdakwah dengan cara yang sebaik mungkin tanpa mengurangi ilmu dari apa yang disampaikan kepada masyarakat dan jangan sampai tertinggal oleh zaman bahkan sampai terlena dengan zaman yang modern ini.

Dengan menggunakan media budaya lokal, dakwah dapat menjadi lebih efektif dan relevan, serta menambah rasa toleransi, menghormati, menghargai danmembantu menjaga keberagaman budaya Indonesia.

 

 

Posting Komentar untuk "Strategi Dakwah Berbasis Budaya Lokal Yang Efektif Untuk Menyampaikan Pesan Keagamaan Dalam Masyarakat Muhammadiyah"