Kode Kultural Milenial: Strategi Adaptif Syiar Islam melalui Bahasa Budaya Populer dan Kearifan Lokal Nusantara

 

Disusun oleh:
MUHAMMAD HARUN ARRASYID
UNIVERSITAS AIRLANGGA

Memahami generasi milenial memerlukan pembacaan cermat terhadap kode-kode kultural yang mereka gunakan dan hayati. Dari aspek bahasa, milenial menunjukkan fluiditas tinggi, kerap menggunakan bahasa gaul, singkatan, akronim (misalnya "Mager", "Ntaps"), serta melakukan campur kode (code-mixing) antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris atau bahasa daerah. Bahasa visual seperti emoji dan meme juga menjadi vernakular baru, digunakan untuk menyampaikan emosi, humor, hingga kritik sosial secara ringkas dan efektif. Di sisi lain, terdapat indikasi tantangan dalam pemahaman bahasa formal di kalangan mereka, yang menuntut komunikator syiar menemukan keseimbangan antara bahasa yang relevan dan tetap menjaga kedalaman makna.

Dunia kehidupan digital milenial didominasi oleh platform media sosial seperti Facebook, YouTube, Instagram, TikTok, dan X (Twitter), masing-masing dengan fungsi dan pola interaksi spesifik. Mereka bukan konsumen pasif, melainkan partisipan aktif yang mengharapkan personalisasi dan interaktivitas. Ketergantungan tinggi pada media sosial untuk informasi sekaligus kerentanan terhadap misinformasi menjadi tantangan dan peluang bagi syiar untuk memosisikan diri sebagai sumber yang kredibel dan membekali literasi digital kritis.

Nilai-nilai inti yang dianut milenial meliputi otentisitas dan transparansi, inklusivitas dan toleransi, serta kesadaran sosial dan lingkungan yang tinggi. Mereka juga memiliki aspirasi kuat terhadap pertumbuhan pribadi dan pencarian makna. Pandangan keagamaan mereka beragam, dan banyak yang mengandalkan dunia maya untuk informasi keagamaan. Kombinasi nilai-nilai ini mendorong mereka mencari komunitas dan ajaran agama yang terbuka, tidak menghakimi, dan relevan dengan dilema etika kontemporer.

Budaya populer memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk preferensi dan keterlibatan milenial. Secara estetika visual, mereka menyukai konten yang menarik, mudah dicerna, dan disesuaikan dengan platformnya, mulai dari desain minimalis di Instagram hingga video dinamis di TikTok. Penceritaan (storytelling), terutama dalam format pendek dan otentik, sangat resonan. Humor, meme, dan narasi bentuk pendek menjadi alat keterlibatan yang efektif, mampu menyampaikan pesan kompleks secara ringan dan mudah diingat.

Media bertema Islami seperti musik religi yang mengadaptasi genre populer, film dan serial web dengan narasi inspiratif dan karakter yang relevan, serta permainan edukatif Islami menunjukkan potensi besar sebagai batu pijakan kultural. Fesyen Islami, khususnya hijab dan busana Muslim pria, telah menjadi ekspresi identitas penting yang memadukan kesalehan dengan modernitas. Begitu pula dengan cendera mata Islami dengan desain kontemporer yang memungkinkan milenial mengekspresikan nilai-nilai mereka. Kehadiran media dan produk budaya populer Islami ini menandakan adanya keinginan untuk mengintegrasikan iman dengan kehidupan sehari-hari, memberikan peluang bagi syiar untuk tertanam dalam konsumsi budaya milenial.

Kearifan lokal Nusantara, meliputi tradisi lisan (cerita rakyat, pantun, syair), seni pertunjukan (wayang, tari tradisional), upacara adat, hingga nilai-nilai komunitas (gotong royong, musyawarah), menawarkan kekayaan sumber daya untuk syiar Islam yang kontekstual. Banyak dari kearifan lokal ini yang mengandung atau dapat diharmonisasikan dengan ajaran Islam, sebagaimana dicontohkan oleh Walisongo yang mengintegrasikan nilai Islam ke dalam budaya lokal. Kaidah fikih al-'adah al-muhakkamah juga memungkinkan integrasi adat lokal yang tidak bertentangan dengan syariat.

Untuk menjangkau milenial, kearifan lokal perlu direvitalisasi dan diadaptasi ke dalam format digital yang menarik, seperti animasi, konten web interaktif, siniar, video pendek, atau permainan edukatif. Tantangannya meliputi persepsi "kuno" terhadap tradisi, kurangnya pemahaman milenial akan kearifan lokal itu sendiri, potensi kesalahpahaman atau sinkretisme, dan kebutuhan menyeimbangkan modernisasi dengan otentisitas. Studi kasus seperti metode Wali Sanga dan upaya kontemporer dalam mengadaptasi seni tradisional atau gaya komunikasi yang relevan menunjukkan potensi keberhasilan pendekatan ini.

Merancang strategi syiar yang efektif memerlukan pendekatan yang otentik, relevan, dan interaktif. Otentisitas menjadi landasan utama, di mana da'i dan konten kreator perlu tampil genuin dan transparan. Relevansi dalam bahasa dan tema, dengan menghubungkan ajaran Islam pada isu-isu kontemporer yang dihadapi milenial, menjadi krusial. Syiar harus bergeser dari model satu arah menjadi komunikasi dua arah yang partisipatif, memanfaatkan fitur interaktif media sosial.

Penggunaan platform digital harus strategis, dengan konten yang disesuaikan untuk masing-masing platform. Kolaborasi dengan influencer Muslim yang kredibel dapat meningkatkan jangkauan dan keterlibatan. Integrasi elemen budaya populer seperti bahasa, visual, humor, musik, film, dan gim perlu dilakukan secara kreatif dan etis, menjadikan dakwah sebagai bagian dari hiburan berkualitas.

Merajut kearifan lokal dalam narasi dan format dakwah modern, seperti mengadaptasi cerita rakyat atau merevitalisasi seni tradisional dalam bentuk digital, dapat membuat pesan Islam terasa lebih dekat. Terakhir, penting untuk membina komunitas dakwah yang dialogis, partisipatif, dan inklusif, menciptakan ruang aman bagi milenial untuk belajar, bertanya, dan bertumbuh dalam pemahaman agama mereka.


Editor: Guntur Wicaksono

Posting Komentar untuk "Kode Kultural Milenial: Strategi Adaptif Syiar Islam melalui Bahasa Budaya Populer dan Kearifan Lokal Nusantara"